Aku membencinya, Mommy
Rasanya telah jauh aku melangkahkan kakiku meninggalkan bayang bayang masalalu. Tidak lagi membuka buku harian, photo, atau membuka sosial media miliknya. Aku benar benar berkonsentrasi pada hidup baruku sekarang. Aku sibuk dengan urusan persahabatanku, gaya gaya kekinian bersam a adik adik dan rekan sejawat, pekerjaan dan juga travelling kesukaanku. Rasanya tak ada yang salah dan aku sangat menikmati hidupku saat ini.
Tapi hari itu, aku baru menyadari satu hal dan tidak bisa kusanggah lagi tentang perasaan hatiku. Entah bagai disambar petir, air mataku berurai seiring dengan tercabiknya perasaanku. Dia tidak bicara, hanya menunjukan sebuah poto, itupun bukan ke aku melainkan di media sosialnya.
Photo kenangan itu mempunyai seribu makna, sakit, sedih dan penderitaan. Terlintas semua cerita hidup yang telah ku kubur dalam dalam, mimpi yang telah kuhapus, rasanya semua kembali hadir. Tapi mengapa aku sedih? harusnya aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi.
Tuhan, aku tau dan sadar satu hal, bahwa hatiku belum seluruhnya pergi. Hatiku terluka, dan selama ini terpendam. Aku membencinya, mommy. Sangat membencinya. Tidak, Bukan,,, aku bukan ingin kembali, aku hanya ingin membalas rasa sakit hatiku. Itu saja....
"tentang rasa"
Sanshine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar