Jumat, 07 Oktober 2016

Mereka yang tidak pernah menuntutmu, tapi tetap menyayangimu



Kabari orang tuamu.....


Bismillahirrohmannirrohiim

Assalamu'alaikum wr.wb.


Sudahkah kita menghubungi orang tua kita hari ini? sudahkah kita memberi kabar kepada mereka? seberapa seringkah kita menanyakan atau menceritakan apa yang mereka kerjakan dan apa yang telah kita kerjakan? Sudahkah kita mengintrogasi dan mencari tahu tentang mereka seperti yang kita lakukan kepada pasangan, sahabat atau teman kita ? ini adalah sebagian kecil pertanyaan pertanyaan yang sering kali saya rasakan dan saya temui.

Readers, secara tema memang tulisan ini saya khususkan untuk kita yang  berada cukup jauhdari kedua orang tua kita. Namun pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah untuk kita semua sebagai anak dari orang tua kita.

Seringkali kita lupa memberi kabar kepada kedua orang tua kita dengan berbagai alasan yang sebenarnya sangat tidak bisa ditolerir misalnya sibuk dan tidak punya waktu, tidak punya cukup pulsa, tidak begitu dekat secara emosional, sedih jika telpon, tidak leluasa bercerita, masih konservatif alias kuno dan alasan lain yang cukup klise.

Sadarkah kita, alasan-alasan diatas itu hanyalah ego dan malas yang membudaya.  Mengapa? karena melihat perkembangan teknologi saat ini yang sudah sangat maju, rasanya agak lucu jika kita masih  kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua kita. Lihat saja, saat ini quota internet jauh lebih penting daripada beli kosmetik, saat "ngemall" jauh lebih keren daripada ngumpul di pengajian, saat HP menjadi barang terpenting dalam hidup dan yang pastinya biaya-biaya yang harus dikeluarkan cukup mahal jika dibandingkan dengan hal yang jauh bermanfaat. Tapi apa? pun harganya selangit, hampir setiap orang menjadikan hal ini kebutuhan "primer / wajib" yang artinya harus terpenuhi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada alasan  sulitnya berkomunikasi jarak jauh dengan orang tua kita, sebab rata rata orang sudah mempunyai HP dan paket datanya masing masing. :).
 
Dalam hal kedekatan emosional, konservatif, dan lain-lain, coba tanyakan pada hati kita. Sewaktu masih kecil dulu , apakah orang tua kita  malu bercerita kepada kita yang masih anak-anak sedangkan mereka sudah dewasa? jawabanya tidak. Karena jika memang ada yang tidak pantas, mereka tidak akan membicarakannya, tapi apakah mereka membatalkan bercerita kepada kita? tentu saja tidak, karena mereka akan mencari cerita lainnya agar kamu senang. Dan sekarang mengapa kita tidak dapat melakukan hal yang sama untuk mereka :).
 
Ya, sekarang kita sudah mandiri dan sudah punya teman dekat, sahabat, pacar, genk, rekan kerja, atasan / bos, dan banyak lagi orang yang kita temui yang bisa diajak berbagi cerita. Tidak seperti waktu kita masih kecil dulu, dimana orang tua menjadi teman curhat nomor satu. Lalu kita jadi mengabaikan mereka?... Sebagian besar termasuk saya sendiri sering melakukan hal itu, dimana kita punya waktu untuk berbicara dan chat sama pacar, sahabat dan lain-lain selama berjam-jam tapi tidak dengan orang tua kita yang hanya sebentar itupun kalau mereka memulai pembicaraan. Kita sanggup menghabiskan waktu berlama-lama ditelpon memberi kabar kepada pasangan kita tapi kita tidak punya waktu banyak untuk kedua orang tua kita.
 
Teman, tulisan ini saya buat sebagai renungan terutama untuk saya sendiri dan teman-teman yang bersedia membacanya. Terkadang ketika kita telah merasa mampu, kita lupa dan terlena. Kita jauh lebih mementingkan orang lain daripada kedua orang tua kita. Boleh saja kita berteman, menghabiskan waktu bersama siapapun. Namun jangan lupa, luangkan waktu yang banyak untuk orang tua , karena hanya mereka yang tidak pernah menuntut mu, tapi tetap menyayangimu. Jangan menunggu  waktu luang untuk menghubungi mereka, akan tetapi luangkanlah waktumu untuk mereka.
 
Mengutip sebuah  hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ
 
فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”
 
Sekedar mengingatkan, hadist diatas menggambarkan bahwa langkah apapun yang akan kita ambil seharusnya kita menyampaikan kepada orang tua kita untuk meminta restu. Lalu apakah bisa mereka merestui jika mereka sendiri kadang tidak diberi tahu :).
 
Semoga tulisan ini bermanfaat ya readers
 
Wassalamu'alaikum wr.wb..
 
San Shines
 
 
#onedayonepost
 
 
 







3 komentar:

  1. Bagus buat muhasabah. Padahal sms atau telepon beberapa menit sdh buat hati mereka bahagia dan itu sangat berarti buat mereka Smoga kita slalu bisa membagiakn orgtua kita

    BalasHapus
  2. Krisan ya? Ada banyak pengulangan kata yang seharusnya bisa diminimalisir, dan kesalahan EBI (EYD).
    Overall, good writing!

    Good job. Do not give up!

    BalasHapus
  3. Setelah baca ini, jadi inget ibu bapak...

    BalasHapus